31.1.09

Tiga Bulan Berjalan, Efektif Ajak Siswa Jujur

Gagasan membentuk sikap jujur di kalangan siswa SD dari program kantin kejujuran berjalan cukup efektif. Hasilnya, program yang digagas Kejari Kota Malang di SDN Tunjungsekar I ini berjalan lancar selama tiga bulan ini. Para siswa sudah terbiasa berlaku jujur membayar dan mengambil kembalian uang jajan sendiri.

Kasek SDN Tunjungsekar I Nanik Sulistyowati mengatakan, sejak program ini digulirkan anak-anak tertib dalam membeli aneka makanan yang disediakan di kantin kejujuran. Bahkan, sekolah saat ini menambah dua kios yang disewakan kepada orang lain untuk menambah menu jajanan siswa.

Meski melibatkan pihak luar, sistem dagangan harus mengadopsi kantin kejujuran. Yakni, menyediakan jajanan sekaligus harganya. Dan, siswa yang membeli memasukkan uangnya ke dalam kaleng tempat penyimpanan uang. Bagi siswa yang uangnya ada kembalian, siswa yang mengambil sendiri. "Jadi penjual, hanya mengawasi dan menjawab pertanyaan anak-anak apabila ada yang tidak mengerti," ujar Nanik, ketika ditemui di kantin kejujuran kemarin.

Dan ketika kantin ditutup, petugas sekolah menghitung jumlah barang dengan uang yang ada di kaleng, hasilnya sama persis. Ini menunjukkan bahwa anak-anak sudah bersikap jujur, meskipun masih perlu ada pengawasan dari jauh.

Nanik mengatakan, keberhasilan ini terwujud karena setiap guru yang mengajar mata pelajaran (mapel) yang terkait kantin kejujuran setiap hari selalu mengingatkan. Seperti mapel PPKN, Agama, IPS. Jadi, setiap kali mengambil contoh dalam pelajaran itu selalu dikaitkan dengan kantin kejujuran. "Harus diakui, usia mereka masih anak-anak, lebih mudah membentuk sikap jujur. Tapi ini harus ada kesinambungan agar sikap ini terus melekat pada diri anak-anak hingga kelak dewasa," tuturnya.

Disinggung adanya mulok (muatan lokal) tentang korupsi dari kejari, Nanik mengatakan hingga saat ini belum ada materi terkait korupsi yang sebelumnya memang diwacanakan kejari saat peresmian kantin kejujuran. "Meski belum ada, untuk awalan program ini berjalan efektif. Bahkan setiap bulan, kantin ini selalu untung. Per harinya bekisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu," tuturnya. Namun, keuntungan itu bukan yang dicari. Tapi bagaimana dengan membentuk sikap anak mengambil barang dan membayar sesuai dengan harga yang telah diterapkan. jawapos.com


[+/-] Selengkapnya...

30.1.09

Purwantoro 1 Masuk Enam Besar

Gugus dua Kecamatan Blimbing yang berpusat di SDN Purwantoro 1 masuk enam besar provinsi dalam lomba gugus 2008-2009. Kemarin, sekolah yang berada di Jalan Raya Letjen Sutoyo Kota Malang ini kembali didatangi tim penilai dari Dinas P & K Provinsi Jatim.

"Tim kembali menilai gugus dua untuk mencari pemenang dari enam besar. Kalau berhasil, maka akan maju ke nasional," ungkap Suwarjana, kasi Kurikulum Dikdas Diknas Kota Malang, kemarin.

Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus 2 Blimbing M. Anwar mengungkapkan, keunggulan yang ditawarkan dalam gugus dua salah satunya adalah pelajaran keterampilan bernilai ekonomis kepada siswa SD. Kepada lima anggota gugus 2, produk unggulan itu disebarkan. Lima anggota gugus 2 Blimbing adalah SDN Purwantoro 2, SDN Purwantoro 4, SDN Purwantoro 6, SDN Purwantoro 8, dan SD Taman Muda 2.

Dua unggulan lainnya adalah pelibatan peran serta masyarakat dalam membina keterampilan siswa. Dan pembuatan buletin Citra Edukasi untuk menampung artikel guru, tulisan, atau puisi siswa dan info-info sekolah. "Untuk tingkat SD, tiga unggulan itu kami pandang sangat positif," kata Anwar.

Pelajaran membuat buah karya yang bernilai ekonomis bisa diberikan guru semenjak seorang anak duduk sebagai siswa sekolah dasar (SD). Dengan begitu, anak terbiasa membuat buah tangan yang bermanfaat bagi dia dan orang lain. Karena dengan karya yang bermanfaat, maka timbul nilai jual. Tidak sekadar membuat buah tangan asal-asalan yang dianggap indah bagi pembuatnya sendiri.

Buah karya bernilai ekonomis bocah SD, misalnya tempat pensil dari kaleng bekas dengan hiasan belalai gajah, replika menara petronas dari kertas bekas, wadah dari manik-manik, juga topeng Malangan dari bubur kertas. Ada juga brownies tempe dan asesoris dari pita.

Barang-barang yang dibanderol mulai Rp 2.000 hingga Rp 25 ribu tersebut kemarin dipamerkan di SDN Purwantoro 1. Pameran itu dalam rangka penilaian tingkat provinsi lomba gugus yang dipusatkan di Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Suwarjana menambahkan raihan juara I tingkat nasional lomba gugus kategori SD menjadi penghargaan tiga kali berturut-turut. Sementara, untuk TK baru 2008 berhasil meraih juara I. Tahun 2007, TK Kota Malang yang diwakili TK Taman Harapan hanya mampu bertahan di 10 besar Jatim. jawapos.com


[+/-] Selengkapnya...

T-Rex Untuk Kenalkan Robotika

Ingin memperkenalkan robotika di sekolah-sekolah yang ada di Bandung, SMA Kriten Trimulya menggelar Trimulya Robotic Exibition (T-Rex). Lebih dari 40 tim akan unjuk kebolehan dalam ajang kompetisi robot mulai 30-31 Januari 2009.

"Kita ingin perkenalkan robotika di tingkat sekolah. Kita ingin robotika bisa diterima dan populer di semua sekolahan," ujar Willy Virga Hidayat ST, pembina OSIS SMAK Trimulya di ruang Multimedia SMAK Trimulya, Jalan Dr Djunjunan No 105.

Menurut Willy, sudah 4 tahun kegiatan ekstrakulikuler robotika diadakan di SMAK Trimulya. Dari tahun ke tahun semakin banyak yang ikut ekstrakulikuler robotika tersebut.

"Dalam ekskul robotika di kita bukan hanya merakit tapi juga programming. Siswa tidak hanya belajar membuat atau membangun robot tapi juga memprogram agar robot tersebut bisa berjalan dengan baik," papar pria yang juga menjabat sebagai ketua pelaksana T-Rex ini.

Antusiasme peserta dalam mengikuti kompetisi ini juga sangat besar. Selain SD, SMP dan SMA Trimulya, sekolah yang lain seperti SD Bais, Science Grup, SD Pribadi, SMPK 1 BPK, SMP Bintang Mulya, SMP Yahya, SMP dan SMA Bina Bakti, SMA Santa Maria, SMA Alloysius Batununggal, serta SMAN 12 Bandung ikut dalam kompetisi.

"Kompetisi kita bagi menjadi 3 kelas, yakni kelas SD, SMP dan SMA," pungkasnya. detik.com


[+/-] Selengkapnya...

29.1.09

Mantan Kepsek SMP Divonis 1 Tahun 4 Bulan

Mantan Kepala Sekolah SMP 21 Bandung Deddy Abdul Adha divonis 1 tahun empat bulan penjara, karena terbukti bersalah menggunakan dana block grant APBN 2006-2007 senilai Rp 220 juta yang seharusnya untuk pembangunan empat ruangan kelas.

Vonis tersebut dijatuhkan oleh majelis hakim yang dipimpin oleh Imam Syafei di PN Bandung, Jalan LRE Martadinata, Rabu (28/1/2009).

Vonis ini lebih rendah dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum J Tanamal yang menuntutnya 2 tahun penjara.

Terdakwa telah menggunakan uang Rp 220 juta untuk pembangunan empat ruang kelas baru di SMPN 21, tetapi tidak menggunakan aturan juklak dan juknis pembangunan gedung sekolah yang seharusnya.

Terdakwa tidak meminta bantuan tenaga teknis bahkan terdakwa merangkap sebagai bendahara tanpa melibatkan pihak lain sesuai petunjuk pelaksana bantuan. Parahnya, bangunan empat kelas itu hingga kini belum rampung.

"Terdakwa dijerat pasal 3 ayat 1 UU RI No 31 tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi," ujar Imam dalam pembacaan vonis.

Selain menvonis penjara 1 tahun 4 bulan, terdakwa juga dikenai denda sebesar Rp 50 juta subsider 2 bulan dan uang pengganti sebesar Rp 147,5 juta dan subsider kurungan 6 bulan. Uang pengganti ini lebih rendah dari tuntutan jaksa yang meminta terdakwa membayar uang pengganti sebesar Rp 220 juta.

"Jika tidak mampu membayar dalam satu bulan aset kekayaan akan dilelang. Kalau tidak mencukupi, maka subsider 6 bulan," ujar majelis hakim.

Kuasa hukum terdakwa, Iqbal Nugraha, mengaku keberatan dengan keputusan hakim tersebut. Pihakanua meminta waktu selama tujuh hari untuk mempertimbangkan banding. Hal sama juga dilakukan JPU. detik.com


[+/-] Selengkapnya...

28.1.09

Belajar Tanpa Rasa Takut

Belajar tanpa rasa takut. Itulah inti kampanye sejumlah pelajar sekolah menengah di Jakarta, baru-baru ini. Melalui poster, foto, dan puisi mereka satu suara untuk menghentikan berbagai bentuk bullying atau aksi ancam-mengancam disertai kekerasan yang sering terjadi di sekolah.

Romy, salah satu siswa, mengatakan, biasanya siswa yang pernah mengalami kekerasan selalu sulit tidur, gelisah, dan trauma. Lain lagi dengan Ratu. Ia lebih memilih diam setiap melihat tindakan bullying walaupun merasa kasihan.

Survei yang dilakukan Yayasan Sejiwa terhadap 1.500 siswa di tiga kota besar di Indonesia menemukan 67 persen siswa sekolah menengah pernah mengalami aneka jenis kekerasan fisik dan mental dari rekannya sendiri. Menurut Ratna Juwita, Psikolog dari Universitas Indonesia, sebaiknya setiap anak memiliki rasa percaya diri yang positif serta mau berkomunikasi agar terhindar dari perilaku kekerasan. "Siswa harus mau belajar untuk berkomunikasi dengan baik dan positif," ucap Ratna.

Sementara orangtua sebaiknya membekali putra-putrinya dengan rasa percaya diri tinggi. Ini agar sang anak tak mudah menjadi korban bullying. Sedangkan siswa baru harus berlatih untuk tak mudah merasa terintimidasi. Bila belum bisa, siswa sebaiknya sering berada dalam kelompok yang bersahabat. liputan6.com


[+/-] Selengkapnya...

24.1.09

Sekolah Ambruk, Siswa Belajar di Tenda

Ciamis: Ratusan siswa Sekolah Dasar Negeri 1 Emplak, Kalipucang, Ciamis, Jawa Barat, terpaksa belajar di bawah tenda. Pasalnya tiga ruang kelas yang ambruk sejak Desember silam hingga kini belum diperbaiki. Tiga ruang ambruk karena kondisi bangunan sudah lapuk.

Selain tiga kelas yang rata dengan tanah, kondisi empat kelas lainnya dan ruang guru sangat memprihatinkan dan membahayakan. Namun masih digunakan untuk kegiatan belajar karena tak ada ruang pengganti. Dinas Pendidikan Ciamis berjanji memperbaiki pada Mei 2009 karena dana baru akan cair sekitar April mendatang.

Selain SDN 1 Emplak, masih ada 1.200 ruang kelas di daerah Ciamis yang rusak berat dan harus segera diperbaiki. "Karena kebetulan robohnya pada akhir tahun anggaran sehingga kami belum bisa segera membangunnya," ucap Wawan Arifin, Kepala Dinas Pendidikan Ciamis. liputan6.com


[+/-] Selengkapnya...

500 Ruang Kelas SD Rusak

Sekitar 500 ruang kelas SD dan SDLB di Kabupaten Lamongan dalam kondisi rusak. Bangunan tersebut rata-rata dibangun pada 1975 hingga 1976, tetapi belum tersentuh perbaikan.

"Bangunan lokal gedung sekolah tersebut diperkirakan akan masuk daftar penghapusan. Ternyata perkiraan itu tidak terealisasi sehingga bangunan tersebut harus diperbaiki,'' kata Kasi Sarana dan Prasarana TK/SD Dinas Pendidikan Lamongan Abdurahman kepada Radar Bojonegoro, kemarin (23/1).

Menurut dia, ruang kelas yang rusak umumnya masih beratap seng dan sebagian kerangka kayunya lapuk. Dari 500 unit bangunan tersebut, 278 unit di antaranya tahun ini akan diperbaiki dengan dana alokasi khusus (DAK). "Sisanya diusulkan untuk mendapat dana perbaikan pada 2010,'' ungkapnya.

Abdurahman mengungkapkan, DAK dari APBN 2009 untuk perbaikan 278 lokal SD dan SDLB nilainya sekitar Rp 50 miliar. Itu masih ditambah dengan dana pendampingan dari APBD Lamongan 2009 sebesar 10 persen atau Rp 5,250 miliar. "Sehingga total dananya Rp 55,250 miliar, selain untuk fisik juga untuk pengadaan mebeler,'' ungkapnya.

Tidak seperti DAK 2008 yang nilainya diseragamkan Rp 250 juta per sekolah dengan jumlah 155 sekolah, kata Abdurahman, DAK tahun ini nilai per sekolah tak sama. Tapi, disesuaikan dengan tingkat kebutuhannya. "Besarnya variatif antara Rp 180 juta hingga Rp 500 juta," terangnya.

Dia menjelaskan, yang mendapat Rp 500 juta hanya SDN Kepatihan Lamongan yang merupakan hasil merger SDN Jetis V, VI, dan VII yang sebagian gedungnya dipakai untuk SMPN 1 Lamongan untuk pengembangan SBI (sekolah berstandar internasional). Sehingga perlu dibangun gedung baru untuk sekolah itu,'' jelasnya.

Abdurahman menambahkan, hingga kemarin proses perbaikan gedung sekolah itu belum bisa dilakukan karena masih menunggu petunjuk teknis (juknis) dari pemerintah pusat. "Diperkirakan baru turun Februari sehingga proses perbaikannya diperkirakan dimulai Maret mendatang,'' imbuhnya. jawapos.com


[+/-] Selengkapnya...

23.1.09

Tak Boleh Ujian karena Berambut Pirang

Seorang kepala sekolah di Inggris dikecam murid dan orang tua murid setelah melarang dua murid perempuan berusia 16 tahun masuk karena rambut mereka 'terlalu pirang'.

Raegan Booth, 16 tahun, dan Aby Western, 15 tahun, mengaku mereka diancam dikeluarkan dari sekolah oleh kepala sekolah mereka, David Alexander, jika mereka tidak mencat rambut mereka menjadi cokelat. Namun, Raegan berkeras untuk tetap mempertahankan warna rambutnya yang memang asli pirang.

Mereka juga mengklaim dipaksa untuk menerapkan kebijakan pakaian yang ketat di Sekolah Rednock di Dursley, Gloucestershire agar bisa mengikuti ujian.

"Peraturan sekolah juga menjelaskan bahwa warna rambut para murid harus alami," ujar Raegan. "Warna rambut tidak alami adalah biru, jingga, hijau, dan merah terang. Pirang adalah warna alami dan ada berbagai macam."

Raegan pun meminta agar dirinya dibolehkan mengikuti ujian. Ayah Raegan, Martin Booth, mengatakan, "Raegan adalah contoh murid yang bekerja keras saat ujian. Hasil-hasil ujiannya selalu bagus. Warna rambutnya memang alami pirang."

Alexander sendiri membantah tudingan Raegan. Menurut Alexander, ia hanya menyuruh Raegan mencat rambutnya dan setelah itu Raegan boleh ikut ujian. "Kami tidak akan menghalangi murid untuk ujian," ujar Alexander.

Alexander juga mengaku dirinya hanya menerapkan peraturan di sekolah dan peraturan tersebut telah ada sejak lama. tempointeraktif.com



[+/-] Selengkapnya...

21.1.09

Bank Mandiri Datang Merenovasi

Akibat gempa berkekuatan 7,2 SR dan 7,6 SR yang menggoyang Manokwari, ratusan bangunan di ibu kota Provinsi Papua Barat ini rusak. Salah satunya, kerusakan gedung SMA 2 Manokwari yang menjadi perhatian Bank Mandiri. Salah satu perusahaan perbankan berpelat merah ini, Selasa (20/1), memberikan bantuan biaya renovasi sebesar Rp 300 juta kepada sekolah itu.

Bank Mandiri melalui program Peduli Pendidikan merasa terpanggil dengan kejadian ini. Kami sadar bantuan ini masih jauh dari memadai, tetapi diharapkan dengan perbaikan fasilitas dan gedung sekolah maka proses belajar-mengajar dapat kembali normal, ujar Ogi Prastomiyono, Direktur Compliance and Human Capital Bank Mandiri.

Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan Bank Mandiri bersama Pemkab Manokwari yang langsung dihadiri Bupati Manokwari Dominggus Mandacan dan Wakil Bupati Dominggus Buiney.

Acara penandatanganan berlangsung meriah dengan pertunjukan seni musik tradisional dan tarian muda-mudi serta tarian khas Manokwari, tari Tumbuk Tanah. Saking terbawa atmosfir kegembiraan, pejabat Bank Mandiri dan Bupati Manokwari menyempatkan diri melompat-lompat bersama para penari tumbuk tanah yang merupakan siswa-siswi SMA 2 Manokwari.

Kepala Cabang Manokwari Jindar Sihotang mengungkapkan, pihaknya telah melakukan survei sebelum menyalurkan bantuan. Ia berharap bantuan ini dapat digunakan sebaik-baiknya untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan.

Di Jayapura

Sementara itu, sehari sbebelumnya, Bank Mandiri memberikan bantuan beasiswa kepada 40 mahasiswa Universitas Cenderawasih di Jayapura, Provinsi Papua. Nilainya mencapai Rp 240 juta yang diberikan selama setahun. Ke-40 mahasiswa S-1 dan D-3 tersebut terpilih sebagai penerima beasiswa karena memiliki usaha yang telah melalui seleksi ketat.

Pemberian beasiswa diterima Rektor Uncen Prof Dr Baltasar Kambuaya MBA yang bersamaan dengan pemberian bantuan hibah 10 unit komputer atau senilai Rp 60 juta dari Bank Mandiri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) Bank Mandiri khususnya kepedulian Bank Mandiri terhadap dunia pendidikan, ujar Ogi Prastomiyono.

Dijelaskan, pendidikan kewirausahaan merupakan cara tepat untuk mengatasi pengangguran di Indonesia. Penciptaan kerja dan bukan pencari kerja harus dipupuk dalam setiap benak generasi baru.

Pemberian bantuan beasiswa kepada mahasiswa berwirausaha diharapkan dapat membantu dan mengembangkan serta meningkatkan produktivitas usaha yang dapat membawa dampak peningkatan kesejahteraan pada masyarakat setempat. Program ini merupakan rangkaian Program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang telah berjalan sejak 2007. kompas.com


[+/-] Selengkapnya...

20.1.09

3.559 Siswa Putus Sekolah

Pemkab Boyolali masih memiliki pekerjaan rumah (PR) panjang untuk mengatasi persoalan pendidikan. Pada 2008 saja, tercatat ada 3.559 siswa SD di Boyolali putus sekolah. Angka tersebut mengalami penurunan disbanding 2007, yang mencapai 6.000 lebih siswa putus sekolah diusia sama. Rata-rata usia mereka berkisar 7 hingga 15 tahun. Berbagai persoalan melilit para siswa, sehingga terpaksa putus sekolah.

Eko Suharsono, kasubag Penrencanaan Penelitian dan Pelaporan Dispora Boyolali mengatakan, para siswa ini putus sekolah dengan berbagai variasi tingkatan kelas. Ada yang putus setelah naik kelas 2 ke kelas 3. Dan, ada juga yang sudah tinggal merampungkan kelas 6, tapi putus di tengah jalan. "Rata-rata kebanyakan putus kelas saat kelas tiga," jelasnya kemarin (19/1).

Ada beberapa pemicu anak putus sekolah. Misalnya, orang tua siswa tidak memiliki biaya menyekolahkan anaknya. Kemudian ada juga siswa yang bersangkutan tidak mau sekolah karena malas belajar.

Bagi siswa di daerah pedesaan, para siswa putus sekolah karena jarak antara sekolah dengan rumah sangat jauh. "Semua persoalan itu, kami tampung. Kemudian dicari jalan keluarnya," terang dia.

Siswa putus sekolah ini, menurut Eko, hampir merata di semua desa. Di daerah Boyolali terdapat 267 desa. Antara yang bermukim di pedesaan terpencil, lebih banyak dibanding daerah dataran rendah.

Kondisi ini membutuhkan penangan serius. Diantaranya, meluncurkan bantuan biaya pendidikan kepada keluarga siswa putus sekolah. Dengan bantuan itu, mereka bisa melanjutkan minimal sampai lulus SD. Kemudian, Dispora juga menerapkan kejar paket kepada siswa yang bersangkutan.

"Ke depan, kami juga menerapkan home schoolling (sekolah di rumah). Jadi, guru datang di rumah siswa yang berangkutan," terangnya.

Langkah ini, diprioritaskan di daerah pedesaan tepencil. Biasanya, siswa malas ke sekolah, karena jaraknya jauh. Dari pada siswa tidak mau sekolah, mendingan guru yang dating," tambah dia. jawapos.com


[+/-] Selengkapnya...

Bisa UN Mandiri

Kabar gembira bagi SMA/MA yang memiliki murid minimal 20 orang atau kurang dari 20 orang tetapi status sekolah telah terakreditasi. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) membolehkan SMA/MA itu untuk menyelenggarakan ujian nasional (UN) mandiri. Mereka tak perlu lagi bergabung dengan sekolah negeri di sekitarnya.

Ketentuan tersebut tercantum dalam Surat BSNP 1544/BSNP/I/2009. Surat yang ditandatangani langsung oleh Ketua BSNP Prof Dr Mungin Eddy Wibowo itu telah dikirimkan ke semua diknas kota/kabupaten mulai kemarin. "Kami dapat surat itu dalam rapat dengan Diknas Jatim," jelas Kabid Dikmenum Diknas Kota Malang Sugiharto, kemarin.

Kunti Nursasiati, kasi kurikulum dikmen Diknas Kota Malang menerangkan, sebelumnya SMA/MA yang berhak menyelenggarakan UN mandiri jika telah terakreditasi dan memiliki peserta UN minimal 20 orang. Sehingga SMA yang tidak terakreditasi telah mendaftar untuk bergabung.

Termasuk SMA/MA yang muridnya kurang dari 20-an, juga mendaftar untuk bergabung dalam UN April-Mei 2009 mendatang. "Dengan adanya ketentuan baru itu, menyebabkan semua SMA/MA di Kota Malang bisa menyelenggarakan UN mandiri," kata Kunti.

Selain melonggarkan aturan penyelenggara, surat tersebut juga menegaskan penambahan jumlah guru pengawas di sekolah. Dari satu guru pengawas kelas menjadi dua guru pengawas kelas. Sedangkan untuk pengawas tingkat sekolah ditempatkan seorang dosen dari perguruan tinggi (PT).

Untuk jenjang SMK, BSNP juga mengeluarkan perubahan. Institusi yang dibentuk untuk menstandarkan pendidikan di Indonesia ini menegaskan ujian kompetensi keahlian (praktik) minimal tujuh. Sedangkan ujian teori kompetensi minimal empat.

"Ujian teori kompetensi minimal empat ini bisa memberatkan siswa. Soalnya kadang siswa senang praktiknya saja. Sedangkan teori, banyak siswa yang menomorduakan," kata Kunti.

Dengan kondisi itu, Kunti mengatakan diknas khawatir siswa SMK bakal kesulitan dalam ujian teori. Sehingga bisa memperbesar angka ketidaklulusan. jawapos.com


[+/-] Selengkapnya...

19.1.09

SD Rawa Badak Selatan Tetap Masuk

Kebakaran besar yang terjadi di Depo Pertamina Plumpang tampaknya tidak mempengaruhi kegiatan belajar mengajar di sekitar lokasi. Terbukti SDN Rawa Badak Selatan yang terletak sekitar 300 meter dari pusat api tidak meliburkan siswanya.

Pantauan detikcom di sekolah tersebut di, Jl Bundari, Bendungan Melayu, Kecamatan Koja, Jakarta Utara, Senin (19/1/2009) pukul 07.00 WIB, para murid tampak telah berdatangan. Demikian juga para stat pengajar.

"Sekolah masuk, Mas. Karena ini kan bukan hari libur, jadi ya tetap masuk," ujar salah seorang guru bernama Juari kepada detikcom.

Meski tidak libur, namun belum bisa dipastikan apakah sekolah tersebut akan menggelar kegiatan belajar mengajar seperti biasa. "Ya kita lihat nanti, karena anak muridnya kan tinggal di daerah sini. Kita lihat dulu," imbuh Juari.

Saat ini api semakin mengecil. Meski belum berhasil dipadamkan, namun sudah ada tanda-tanda api semakin bisa dikendalikan. detik.net


[+/-] Selengkapnya...

17.1.09

Belum Masuk Sekolah Lagi

Sebagian siswa SD Sokomoyo II, Jatimulyo, Girimulyo masih melakukan aksi mogok sekolah. Terutama para siswa yang ditempatkan di lokasi baru terlebih dahulu, yakni kelas 1, 2 dan 6. Mereka tetap menginginkan berada di sekolah yang lama. Sementara siswa yang sudah melakukan kegiatan belajar mengajar adalah kelas 3, 4 dan 5 yang berada di lokasi SD Sokomoyo lama.

Kepala Dukuh Gunungkelir, Jatimulyo Tukiran mengatakan sampai saat ini pihak orang tua murid membiarkan anak-anaknya untuk tidak mengikuti kegiatan belajar mengajar disekolahnya. "Tadi saya lihat yang anak kelas I sudah bubar, padahal masih sekitar pukul 8 pagi,"ujarnya.

Tukiran menjelaskan, sebenarnya orang tua murid banyak yang kecewa dengan relokasi ini. Karena sebelumnya saat rencana relokasi ini muncul, para orang tua siswa sudah pernah mengusulkan tempat relokasi yang dianggap lebih aman dan dekat, yakni di depan SMP Girimulyo. Hanya saja, pihak sekolah tidak mengakomodirnya dan permasalahan tersebut hilang begitu saja dari permukaan. Kemudian muncul lagi, setelah pihak sekolah tiba-tiba meminta para siswanya untuk menempati gedung sekolah baru.

"Kalau saja pihak sekolah mempertimbangkan usulan warga dan berkomunikasi secara intens, pastilah kejadian seperti tidak perlu terjadi. Kasihan anak-anak, mereka jadi bingung mesti bagaimana. Ke sekolah jauh, tapi kalau terus membolos akan ketinggalan pelajaran,"terang Tukiran.

Sementara itu, Kepala Bidang TK/SD Arif Prastowo menyatakan segera melakukan pendekatan persuasive kepada para murid dan orang tuanya melalui UPTD di Girimulyo. Agar proses belajar mengajar para murid tidak terhenti. "Semoga saja responnya positif, karena sekarang ini yang terpenting anak-anak dapat belajar lagi,"kata Arif.

Menurutnya, rencana relokasi ini merupakan langkah antisipasi dari pihak Dinas Pendidikan sebab lokasi yang sekarang masuk kedalam daerah rawan longsor. Saat ditanya mengenai tidak diakomodirnya usulan warga mengenai lokasi relokasi, Arif menyatakan belum tahu secara detil. Pasalnya, dirinya mengaku baru saja dilantik menjadi Kabid TK/SD selama sepuluh hari ini. Sehingga belum meninjau secara lengkap awal mula munculnya permasalahan ini. jawapos.com


[+/-] Selengkapnya...

Siswa SMA ikuti Seminar Antikorupsi

Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Pontianak, Kalimantan Barat, mengadakan seminar antikorupsi bagi pelajar sekolah menengah atas di kota tersebut, Jumat (16/1). Acara bertajuk Seminar Sehari Pendidikan Antikorupsi di Bangku Sekolah itu dihadiri Staf Fungsionaris Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Ryan H. Utama. Ratusan pelajar juga turus berpartisipasi sebagai peserta seminar.

Menurut Ryan H. Utama, ada sembilan dasar antikorupsi yang harus dibangun pada generasi penerus, yaitu jujur, disiplin, tanggung jawab, sederhana, kerja keras, mandiri, adil, peduli, dan berani. Kalau dasar antikorupsi sudah diterapkan maka perilaku korupsi dapat ditekan atau dihilangkan.

Seminar pendidikan antikorupsi disambut positif para siswa yang berasal dari berbagai SMA di Pontianak. Seorang pelajar SMAN 1 Sungai Raya mengaku semakin disadarkan bahwa prilaku menyimpang berpotensi menjadi guru besar praktik korupsi di kemudian hari, di antaranya menyontek. Siswa ini berharap, KPK tidak hanya menangani kasus korupsi di Jakarta. Pasalnya, banyak kasus korupsi di Kalimantan Barat yang merugikan nega. liputan6.com


[+/-] Selengkapnya...

16.1.09

Siswa Heran Ada Pelajar Ditahan

Sebanyak 115 siswa SMPN 19 Jl Bitung kemarin ramai-ramai mendatangi Mapolresta Malang. Mereka bukan hendak mengadukan kasus kriminalitas, tapi studi lapangan tentang tugas kepolisian.

Sejak pukul 08.30 hingga 10.30 para siswa mengunjungi satu per satu satuan fungsi. Diawali di Satuan Lalu Lintas, Samapta, Reserse dan Narkoba (Reskoba), Reserse dan Kriminal (Reskrim), Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA), dan terakhir mengungjungi ruang tahanan (rutan).

Berbeda dengan kunjungan anak TK atau SD, kunjungan siswa SMP ini terlihat lebih serius. Kalimat yang ditanyakan sudah tidak lagi masalah umum layaknya yang ditanyakan siswa di bawah tingkat mereka. Misalnya, ketika berkunjung ke Satreskrim, mereka bertanya bagaimana seseorang bisa ditahan.

Saat mengunjungi rutan, mereka sempat keheranan ketika melihat ada penghuni yang masih remaja. ''Itu (tahanan, Red) kok masih muda, apa masih sekolah Pak?'' tanya salah satu siswa kepada polisi penuh keheranan.

''Benar, dia itu tahanan kasus pencurian helm dan masih berstatus pelajar sebuah SMA di Malang,'' jawab petugas yang memandu kedatangan para siswa. ''Makanya jangan curi helm, nanti dipenjara, lebih baik pinjam saja,'' ujar salah satu dari mereka menasihati sesama temannya.

Dalam kunjungan itu, siswa diwajibkan mencatat semua pengamatan yang ia temui. Mulai dari hasil wawancara dengan polisi yang memberikan penjelasan hingga wawancara bersama tahanan yang meringkuk di balik jeruji besi. Sepulang dari kunjungan itu, mereka diwajibkan membuat laporan dan dikumpulkan sebagai tugas wajib.

Kanit Pendidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Lalu Lintas Polresta Malang Aiptu M. Husain mengatakan, selain memberikan ulasan seputar tugas dan fungsi masing-masing satuan, polisi yang memberikan penjelasan juga memberikan penyuluhan pada mereka.

''Misalnya saat berkunjung ke satuan lalu lintas akan diberi arahan supaya tertib ketika berada di jalan raya dan harus mengemudikan kendaraan setelah memperoleh SIM,'' kata Husain. Agar mengetahui bagaimana proses pembuatannya, siswa diajak ke Unit SIM.

Begitu juga saat di Satreskoba, siswa diberi penyuluhan seputar bahaya penggunaan narkoba dan cara penyebarannya. Di Satreskrim dan Unit PPA siswa diperlihatkan proses penyidikan tersangka, saksi, ataupun korban. Terakhir saat kunjungan ke rutan, siswa diberi kesempatan wawancara dengan sejumlah tersangka. jawapos.com


[+/-] Selengkapnya...